Monday, February 16, 2009
MEMBUKA USAHA SAMPINGAN
Oleh: Safir Senduk
Dikutip dari Tabloid NOVA No. 675/XIII
Pada beberapa edisi lalu saya mengatakan ke-pada Anda bahwa untuk mendapatkan penghasilan tambahan ada empat cara yang bisa Anda lakukan. Yakni bekerja pada orang lain, bekerja sendiri dengan mengandalkan keahlian, membuka usaha sampingan, atau melakukan investasi.
Dari keempat hal tersebut, membuka usaha sampingan biasanya merupakan cara yang cukup baik untuk mendapatkan peng-hasilan tambahan. Dengan membuka usaha sampingan, pertama-tama Anda mungkin harus terlibat penuh didalamnya. Tapi lama kelamaan, bila usaha itu besar, Anda bisa menyerahkan pengelolaannya pada orang lain, sehingga Anda bisa punya lebih banyak waktu. Sementara pemasukan terus berjalan.
Bandingkan dengan apabila Anda bekerja pada orang lain atau bekerja sendiri dengan mengandalkan keahlian. Bekerja pada orang lain jelas Anda harus mengikuti jam kerja yang disyaratkan. Sedangkan bekerja sendiri dengan mengandalkan keahlian, biasanya Anda bisa menentukan waktu kerja Anda sendiri, tapi tetap saja Anda akan sibuk
PENGHASILAN BISA BESAR
Jangan salah kira, usaha sampingan, apabila Anda jalankan dengan sungguh-sungguh bisa memberikan hasil yang sama * bahkan lebih besar * dibanding bila Anda bekerja dan mendapatkan gaji.
Saya pernah memperhatikan tukang sate yang berjualan di dekat rumah saya. Setiap hari, dari jam 17.00 - 24.00 (7 jam kerja), ia bisa menjual sekitar 250 tusuk sate ayam. Kalau satu tusuk dihargai Rp 400, maka ini berarti ia mendapatkan Rp 100 ribu sehari. Dalam sebulan, ia bisa bekerja sekitar 25 hari. Ini berarti pemasukannya sebulan mencapai Rp 2,5 juta. Saya pernah tanya berapa sih keuntungannya dari Rp 2,5 juta itu? Dia bilang sekitar 60 persen. Ini berarti keuntungannya adalah Rp 1,5 juta setiap bulan. Itu belum termasuk keuntungan dari penjualan lontongnya.
Tentu saja Anda tidak harus jadi penjual sate bila Anda memang tidak mau. Anda bisa membuka usaha lain yang mungkin lebih Anda kuasai seluk-beluknya. Prinsipnya di sini adalah apa pun usahanya, kalau Anda jalankan dengan serius, hasilnya bisa besar.
Pada awalnya yang namanya usaha mungkin tidak akan selalu berjalan lancar. Penghasilannya mungkin belum seberapa. Tapi itu karena usaha Anda mungkin belum dikenal orang banyak. Namanya juga masih baru. Lama kelamaan, seiring dengan makin dikenalnya usaha Anda, usaha Anda pasti akan mulai berkembang, sehingga hasil yang Anda dapatkan makin besar pula.
Tukang sate tadi misalnya. Saya yakin, pertama kali ia membawa dagangannya, orang mungkin masih ragu-ragu untuk mencoba satenya, karena orang baru pertama kali melihat tukang sate ini. Tapi lama kelamaan, orang mulai memesan satenya, dan akhirnya orang ini identik dengan sate. Setiap kali ia lewat di depan rumah saya, saya langsung teringat akan satenya. Itu bukti bahwa usaha apa pun membutuhkan pengenalan.
Orang harus kenal lebih dulu dengan usaha Anda, apa pun usaha itu. Entah toko, entah restoran kecil, entah usaha jahitan. Mungkin pengenalannya makan waktu satu tahun, dua tahun, atau mungkin hanya beberapa bulan, tergantung bagaimana promosi Anda. Setelah kenal, barulah selebihnya tergantung pada kualitas produk Anda. Bila sekali saja konsumen tak suka, seterusnya mereka kapok membeli produk Anda. Apa pun jenisnya. Karena itu, Anda juga harus menjaga kualitas produk agar sesuai keinginan konsumen.
TIDAK HARUS MENINGGALKAN PEKERJAAN
Siapa bilang bahwa Anda harus meninggalkan pekerjaan tetap Anda sekarang bila Anda menjalankan usaha Anda? Anda tidak harus meninggalkan pekerjaan tetap Anda. Anda bisa menjalankan usaha Anda sambil Anda tetap bekerja di pekerjaan Anda sekarang.
Hitung-hitung, Anda nantinya akan punya pendapatan yang dobel kan? Pertama-tama, mungkin pendapatan usaha Anda masih jauh lebih kecil dibanding gaji dari pekerjaan Anda. Tetapi lama-lama, seiring dengan makin dikenalnya usaha Anda, usaha Anda akan makin maju, dan pendapatan usaha Anda siapa tahu akan meningkat dan bisa menyamai gaji Anda?
Kemudian, siapa tahu juga pendapatan usaha Anda bisa meningkat lagi dan melebihi gaji Anda? Saya banyak melihat contoh orang yang merintis usaha sambil tetap mempertahankan pekerjaannya. Lama-lama ketika usahanya makin sukses, pendapatan dari usahanya meningkat, dan jumlahnya jauh melebihi gajinya. Sehingga ia memiliki pilihan apakah ia akan mempertahankan kedua pendapatannya, atau meninggalkan pekerjaannya dan terjun total 100 persen ke dalam usahanya dengan harapan agar penghasilan dari usahanya bisa makin besar.
Bagi Anda yang menjadi ibu rumah tangga dan hanya suami yang bekerja, mungkin bisa lebih enak lagi. Anda merintis usaha Anda, sementara suami Anda tetap mendapatkan gaji dari pekerjaannya. Masing-masing dari Anda sekarang menghasilkan pendapatan bagi keluarga. Bukan begitu?
SIAP MELUANGKAN WAKTU
Kalau Anda menjalankan usaha Anda sambil masih tetap bekerja, maka Anda harus siap meluangkan waktu. Bagi Anda yang menjalankan tugas sebagai ibu rumah tangga, Anda harus siap menyisihkan sekitar * mungkin * 4 jam setiap hari untuk mengurus usaha baru Anda. Bagi Anda yang juga bekerja di kantor, mungkin Anda harus siap menjalankan usaha Anda pada malam hari. Terserah Anda. Yang jelas, Anda harus memiliki komitmen untuk mau menjalankan usaha Anda, dan jangan kaget kalau nanti Anda akan lebih capek dari biasanya. Ini wajar, karena Anda menjalankan dua pekerjaan sekaligus kan?
Tapi apa yang membuat Anda mau lebih capek dari biasanya? Apa yang membuat Anda mau repot-repot menjalankan usaha Anda? Ini karena Anda ingin agar usaha Anda bisa berkembang kelak dan pengelolaannya bisa Anda serahkan ke anak buah Anda sehingga Anda bisa punya lebih banyak waktu untuk keluarga Anda kelak sementara tetap men-dapatkan penghasilan. Jadi, Anda investasi waktu (mau lebih sibuk) sekarang, dengan harapan agar Anda mendapatkan waktu yang lebih banyak kelak. Jadi, sesibuk apa pun sekarang, kenapa Anda tidak luangkan waktu untuk merintis sebuah usaha?
PERLU DUKUNGAN KELUARGA
Minta dukungan dari keluarga Anda. Kalau perlu, ajak suami Anda untuk ikut membantu Anda. Libatkan suami Anda dari awal. Dengan demikian, suami Anda bisa ikut berperan dalam usaha Anda. Dukungan suami itu penting lo. Banyak usaha rumahan yang gagal karena tidak adanya dukungan suami.
Bukan berarti Anda tidak akan berhasil dalam usaha Anda bila tidak didukung suami, tapi memang akan sangat membantu kalau suami Anda ikut mendukung usaha Anda kan? Kalau perlu, jangan katakan pada suami bahwa ini adalah usaha Anda. Katakan padanya bahwa ini adalah usaha keluarga, bukan usaha Anda. Kelak kalau usaha ini besar, suami Anda bisa ikut terlibat di dalamnya. Bukankah akan mengasyikkan bila suami-istri bekerja bersama membangun usaha keluarga?
TIDAK HARUS SEKOLAH TINGGI
Apakah Anda adalah salah satu dari mereka yang tidak mengenyam sekolah tinggi? Apakah Anda cuma lulusan SMP? Apakah Anda cuma lulusan SMEA? Atau apakah Anda sama sekali tidak pernah sekolah dan hanya punya pengalaman?
Baca ini: Anda tidak harus mengenyam sekolah tinggi lebih dulu untuk bisa membuka usaha dan berhasil dalam usaha Anda. Kita sudah sering mendengar dan melihat dengan mata kepala sendiri bahwa ada banyak orang berhasil dalam membangun usahanya dari nol, meski tidak memiliki pendidikan tinggi. Liputan di NOVA, baik rubrik Profil maupun Peristiwa, sering menampilkannya.
Apa resepnya sehingga mereka bisa berhasil? Ketekunan dan motivasi untuk bisa berhasil. Yang lebih penting, ia * walaupun tidak sekolah tinggi *mau belajar. Belajar tidak harus ditempuh dengan sekolah. Anda bisa belajar dari pengalaman Anda, dari buku, dan dari pengalaman orang lain (baik keberhasilan maupun kegagalannya). Satu lagi, mereka mau memulai usahanya dari kecil lebih dulu, sebelum lama-lama usaha itu menjadi besar. Percayalah, Anda punya kesempatan yang sama dengan saya, dan dengan orang yang lain untuk bisa berhasil, walaupun Anda tidak memiliki pendidikan tinggi sekalipun.
Jadi tunggu apa lagi? Tetapkan tekad untuk membuka usaha sampingan. Sekarang juga.
Wednesday, February 11, 2009
ELANG GUMILANG : Pemenang Wirausaha Muda Mandiri 2007
Jumat sore (28/12), suasana Institut Pertanian bogor (IPB), terlihat
lengang. Tidak ada geliat aktivitas proses belajar mengajar. Maklum hari
itu, hari tenang mahasiswa untuk ujian akhir semester (UAS). Saat Realita
melangkahkah kaki ke gedung Rektorat, terlihat sosok pemuda berperawakan
kecil dari kejauhan langsung menyambut kedatangan Realita. Dialah Elang
Gumilang (22), seorang wirausaha muda yang peduli dengan kaum miskin. Sambil
duduk di samping gedung Rektorat, pemuda yang kerap disapa Elang ini,
langsung mengajak Realita ke perumahannya yang tak jauh dari kampus IPB.
Untuk sampai ke perumahan tersebut hanya membutuhkan waktu 15 menit dengan
menggunakan kendaraan roda empat. Kami berhenti saat melewati deretan rumah
bercat kuning tipe 22/60. Rupanya bangunan yang berdiri di atas lahan 60
meter persegi itu adalah perumahan yang didirikannya yang diperuntukan
khusus bagi orang-orang miskin. Setelah puas mengitari perumahan, Elang
mengajak Realita untuk melanjutkan obrolan di kantornya.
Elang sendiri merupakan anak pertama dari tiga bersaudara pasangan H. Enceh
(55) dan Hj. Prianti (45). Elang terlahir dari keluarga yang lumayan berada,
yaitu ayahnya berprofesi sebagai kontraktor, sedangkan ibunya hanya ibu
rumah tangga biasa. Sejak kecil orang tuanya sudah mengajarkan bahwa segala
sesuatu diperoleh tidak dengan gratis. Orang tuanya juga meyakinkan bahwa
rezeki itu bukan berasal dari mereka tapi dari Allah SWT..
Ketika duduk di bangku Sekolah Dasar Pengadilan 4, Bogor, Elang sudah
mengikuti berbagai perlombaan dan bahkan ia pernah mengalahkan anak SMP saat
lomba cerdas cermat. Karena kepintarannya itu, Elang pun menjadi anak
kesayangan guru-gurunya.
Begitu pula ketika masuk SMP I Bogor, SMP terfavorit di kabupaten Bogor,
Elang selalu mendapatkan rangking. Pria kelahiran Bogor, 6 April 1985 ini
mengaku kesuksesan yang ia raih saat ini bukanlah sesuatu yang instan.
“Butuh proses dan kesabaran untuk mendapatkan semua ini, tidak ada sesuatu
yang bisa dicapai secara instan,” tegasnya. Jiwa wirausaha Elang sendiri
mulai terasah saat ia duduk di bangku kelas 3 SMA I Bogor, Jawa Barat. Dalam
hati, Elang bertekad setelah lulus SMA nanti ia harus bisa membiayai
kuliahnya sendiri tanpa menggantungkan biaya kuliah dari orang tuanya. Ia
pun mempunyai target setelah lulus SMA harus mendapatkan uang Rp 10 juta
untuk modal kuliahnya kelak.
Berjualan Donat. Akhirnya, tanpa sepengetahuan orang tuanya, Elang mulai
berbisnis kecil-kecilan dengan cara berjualan donat keliling. Setiap hari ia
mengambil 10 boks donat masing-masing berisi 12 buah dari pabrik donat untuk
kemudian dijajakan ke Sekolah Dasar di Bogor. Ternyata lumayan juga. Dari
hasil jualannya ini, setiap hari Elang bisa meraup keuntungan Rp 50 ribu.
Setelah berjalan beberapa bulan, rupanya kegiatan sembunyi-sembunyiny a ini
tercium juga oleh orang tuanya. “Karena sudah dekat UAN (Ujian Akhir
Nasional), orang tua menyuruh saya untuk berhenti berjualan donat. Mereka
khawatir kalau kegiatan saya ini mengganggu ujian akhir,” jelas pria
pemenang lomba bahasa sunda tahun 2000 se-kabupaten Bogor ini.
Dilarang berjualan donat, Elang justru tertantang untuk mencari uang dengan
cara lain yang tidak mengganggu sekolahnya. Pada tahun 2003 ketika Fakultas
Ekonomi dan Manajemen IPB mengadakan lomba Java Economic Competion se-Jawa,
Elang mengikutinya dan berhasil menjuarainya. Begitu pula saat Fakultas
Ekonomi Universitas Indonesia (UI) menyelenggarakan kompetisi Ekonomi, Elang
juga berhasil menjadi juara ke-tiga. Hadiah uang yang diperoleh dari setiap
perlombaan, ia kumpulkan untuk kemudian digunakan sebagai modal kuliah.
Setelah lulus SMU, Elang melanjutkan kuliah di Fakultas Ekonomi IPB
(Institut Pertanian Bogor). Elang sendiri masuk IPB tanpa melalui tes SPMB
(Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru, red) sebagaimana calon mahasiswa yang
akan masuk ke Perguruan Tinggi Negeri. Ini dikarenakan Elang pernah
menjuarai kompetisi ekonomi yang diadakan oleh IPB sehingga bisa masuk tanpa
tes. Saat awal-awal masuk kuliah, Elang mendapat musibah yang menyebabkan
uang Rp 10 jutanya tinggal Rp 1 juta. Namun Elang enggan memberitahu apa
musibah yang dialaminya tersebut.
Padahal uang itu rencananya akan digunakan sebagai modal usaha. Meski hanya
bermodal Rp 1 juta, Elang tidak patah semangat untuk memulai usaha. Uang Rp
1 juta itu ia belanjakan sepatu lalu ia jual di Asrama Mahasiswa IPB. Lewat
usaha ini, dalam satu bulan Elang bisa mengantongi uang Rp 3 jutaan. Tapi
setelah berjalan beberapa tahun, orang yang menyuplai sepatunya entah kenapa
mulai menguranginya dengan cara menurunkan kualitas sepatunya. Satu per satu
pelanggannya pun tidak mau lagi membeli sepatu Elang. Sejak itu, Elang
memutuskan untuk tidak lagi berjualan sepatu.
Setelah tidak lagi berbisnis sepatu, Elang kebingungan mencari bisnis
apalagi. Pada awalnya, dengan sisa modal uang bisnis sepatu, rencanaya ia
akan gunakan untuk bisnis ayam potong. Tapi, ketika akan terjun ke bisnis
ayam potong, Elang justru melihat peluang bisnis pengadaan lampu di
kampusnya. “Peluang bisnis lampu ini berawal ketika saya melihat banyak
lampu di IPB yang redup. Saya fikir ini adalah peluang bisnis yang
menggiurkan,
strategi Ario Winarsis, yaitu bisnis tanpa menggunakan modal. Ario Winarsis
sendiri awalnya adalah seorang pemuda miskin dari Amerika Latin, Ario
Winarsis mengetahui ada seorang pengusaha tembakau yang kaya raya di
Amerika. Setiap hari, ketika pengusaha itu keluar rumah, Ario Winarsis
selalu melambaikan tangan ke pengusaha itu. Pada awalnya pengusaha itu tidak
memperdulikannya. Tapi karena Ario selalu melambaikan tangan setiap hari,
pengusaha tembakau itu menemuinya dan mengatakan, “Hai pemuda, kenapa kamu
selalu melambaikan tangan setiap saya ke luar rumah?” Pemuda miskin itu lalu
menjawab, “Saya punya tembakau kualitas bagus. Bapak tidak usah membayar
dulu, yang penting saya dapat PO dulu dari Bapak.” Setelah mendengar jawaban
dari pemuda itu, pengusaha kaya itu lalu membuatkan tanda tangan dan stempel
kepada pemuda tersebut. Dengan modal stempel dan tanda tangan dari pengusaha
Amerika itu, pemuda tersebut pulang dan mengumpulkan hasil tembakau di
kampungnya untuk di jual ke Amerika lewat si pengusaha kaya raya itu. Maka,
jadilah pemuda itu orang kaya raya tanpa modal.
Begitupula Elang, dengan modal surat dari kampus, ia melobi ke perusahaan
lampu Philips pusat untuk menyetok lampu di kampusnya. “Alhamdulillah
proposal saya gol, dan setiap penjualan saya mendapat keuntungan Rp 15
juta,” ucapnya bangga.
Tapi, karena bisnis lampu ini musiman dan perputaran uangnya lambat, Elang
mulai berfikir untuk mencari bisnis yang lain. Setelah melihat celah di
bisnis minyak goreng, Elang mulai menekuni jualan minyak goreng ke
warung-warung. Setiap pagi sebelum berangkat kuliah, ia harus membersihkan
puluhan jerigen, kemudian diisi minyak goreng curah, dan dikirim ke
warung-warung Pasar Anyar, serta Cimanggu, Bogor. Setelah selesai mengirim
minyak goreng, ia kembali ke kampus untuk kuliah. Sepulang kuliah, Elang
kembali mengambil jerigen-jerigen di warung untuk diisi kembali keesokan
harinya. Tapi, karena bisnis minyak ini 80 persen menggunakan otot, sehingga
mengganggu kuliahnya. Elang pun memutuskan untuk berhenti berjualan. “Saya
sering ketiduran di kelas karena kecapain,” kisahnya.
Elang mengaku selama ini ia berbisnis lebih banyak menggunakan otot dari
pada otak. Elang berkonsultasi ke beberapa para pengusaha dan dosennya untuk
minta wejangan. Dari hasil konsultasi, Elang mendapat pencerahan bahwa
berbisnis tidak harus selalu memakai otot, dan banyak peluang-peluang bisnis
yang tidak menggunakan otot.
Setelah mendapat berbagai masukan, Elang mulai merintis bisnis Lembaga
Bahasa Inggris di kampusnya. “Bisnis bahasa Inggris ini sangat prospektif
apalagi di kampus, karena ke depan dunia semakin global dan mau tidak mau
kita dituntut untuk bisa bahasa Inggris,” jelasnya. Adapun modalnya, ia
patungan bersama kawan-kawannya. Sebenarnya ia bisa membiayai usaha itu
sendiri, tapi karena pegalaman saat jualan minyak, ia memutuskan untuk
mengajak teman-temannya. Karena lembaga kursusnyanya ditangani secara
profesional dengan tenaga pengajar dari lulusan luar negeri, pihak Fakultas
Ekonomi mempercayakan lembaganya itu menjadi mitra.
Karena dalam bisnis lembaga bahasa Inggris Elang tidak terlibat langsung dan
hanya mengawasi saja, ia manfaatkan waktu luangnya untuk bekerja sebagai
marketing perumahan. “Saya di marketing tidak mendapat gaji bulanan, saya
hanya mendapatkan komisi setiap mendapat konsumen,” ujarnya.
Bangun Rumah Orang Miskin. Di usianya yang relatif muda, pemuda yang tak
suka merokok ini sudah menuai berbagai keberhasilan. Dari hasil usahanya itu
Elang sudah mempunyai rumah dan mobil sendiri. Namun di balik
keberhasilannya itu, Elang merasa ada sesuatu yang kurang. Sejak saat itu ia
mulai merenungi kondisinya. “Kenapa kondisi saya begini, padahal saya di IPB
hanya tinggal satu setengah tahun lagi. Semuanya saya sudah punya, apalagi
yang saya cari di dunia ini?” batinnya.
Setelah lama merenungi ketidaktenangannya itu, akhirnya Elang mendapatkan
jawaban. Ternyata selama ini ia kurang bersyukur kepada Tuhan. Sejak saat
itulah Elang mulai mensyukuri segala kenikmatan dan kemudahan yang diberikan
oleh Tuhan. Karena bingung mau bisnis apalagi, akhirnya Elang shalat
istikharah minta ditunjukkan jalan. “Setelah shalat istikharah, dalam tidur
saya bermimpi melihat sebuah bangunan yang sangat megah dan indah di
Manhattan City, lalu saya bertanya kepada orang, siapa sih yang membuat
bangunan megah ini? Lalu orang itu menjawab, “Bukannya kamu yang membuat?”
Setelah itu Elang terbangun dan merenungi maksud mimpi tersebut. “Saya pun
kemudian memberanikan diri untuk masuk ke dunia properti,” ujarnya.
Pengalaman bekerja di marketing perumahan membuatnya mempunyai pengetahuan
di dunia properti. Sejak mimpi itu ia mulai mencoba-coba ikut berbagai
tender. Tender pertama yang ia menangi Rp 162 juta di Jakarta yaitu
membangun sebuah Sekolah Dasar di daerah Jakarta Barat. Sukses menangani
sekolah membuat Elang percaya diri untuk mengikuti tender-tender yang lebih
besar. Sudah berbagai proyek perumahan ia bangun.
Selama ini bisnis properti kebanyakan ditujukan hanya untuk orang-orang kaya
atau berduit saja. Sedangkan perumahan yang sederhana dan murah yang
terjangkau untuk orang miskin jarang sekali pengembang yang peduli. Padahal
di Indonesia ada 70 juta rakyat yang masih belum memiliki rumah. Apalagi
rumah juga merupakan kebutuhan yang sangat primer. Sebagai tempat berteduh
dan membangun keluarga. “Banyak orang di Indonesia terutama yang tinggal di
kota belum punya rumah, padahal mereka sudah berumur 60 tahun, biasanya
kendala mereka karena DP yang kemahalan, cicilan kemahalan, jadi sampai
sekarang mereka belum berani untuk memiliki rumah,” jelasnya.
Dalam hidupnya, Elang ingin memiliki keseimbangan dalam hidup. Bagi Elang,
kalau mau kenal orang maka kenalilah 10 orang terkaya di Indonesia dan juga
kenal 10 orang termiskin di Indonesia. Dengan kenal 10 orang termiskin dan
terkaya, akan mempunyai keseimbangan dalam hidup, dan pasti akan melakukan
sesuatu untuk mereka. Melihat realitas sosial seperti itu, Elang terdorong
untuk mendirikan perumahan khusus untuk orang-orang ekonomi ke bawah. Maka
ketika ada peluang mengakuisisi satu tanah di desa Cinangka kecamatan
Ciampea, Elang langsung mengambil peluang itu. Tapi, karena Elang tidak
punya banyak modal, ia mengajak teman-temannya yang berjumlah 5 orang untuk
patungan. Dengan modal patungan Rp 340 juta, pada tahun 2007 Elang mulai
membangun rumah sehat sederhana (RSS) yang difokuskan untuk si miskin
berpenghasilan rendah. Dari penjualan rumah yang sedikit demi sedikit itu.
Modalnya Elang putar kembali untuk membebaskan lahan di sekitarnya. Rumah
bercat kuning pun satu demi satu mulai berdiri.
Elang membangun rumah dengan berbagai tipe, ada tipe 22/60 dan juga tipe
36/72. Rumah-rumah yang berdiri di atas lahan 60 meter persegi tersebut
ditawarkan hanya seharga Rp 25 juta dan Rp 37 juta per unitnya. “Jadi, hanya
dengan DP Rp 1,25 juta dan cicilan Rp 90.000 ribu per bulan selama 15 tahun,
mereka sudah bisa memiliki rumah,” ungkapnya.
Karena modalnya pas-pasan, untuk media promosinya sendiri, Elang hanya
mengiklankan di koran lokal. Karena harganya yang relatif murah, pada tahap
awal pembangunan langsung terjual habis. Meski harganya murah, tapi
fasilitas pendukung di dalamnya sangat komplit, seperti Klinik 24 jam,
angkot 24 jam, rumah ibadah, sekolah, lapangan olah raga, dan juga dekat
dengan pasar. Karena rumah itu diperuntukkan bagi kalangan ekonomi bawah,
kebanyakan para profesi konsumennya adalah buruh pabrik, staf tata usaha
(TU) IPB, bahkan ada juga para pemulung.
Sisihkan 10 Persen. Dengan berbagai kesuksesan di usia muda itu, Elang tidak
lupa diri dengan hidup bermewah-mewahan, justru Elang semakin mendekatkan
diri kepada Tuhan. Salah satu wujud rasa syukur atas nikmatnya itu, dalam
setiap proyeknya, ia selalu menyisihkan 10 persen untuk kegiatan amal. “Uang
yang 10 persen itu saya masukkan ke BMT (Baitul Mal Wa Tanwil/tabungan)
pribadi, dan saya alokasikan untuk membantu orang-orang miskin dan orang
yang kurang modal,” bebernya. Bagi Elang, materi yang saat ini ia miliki ada
hak orang miskin di dalamnya yang musti dibagi. Selain menyisihkan 10 persen
dari hasil proyeknya, Elang juga memberikan sedekah mingguan, bulanan, dan
bahkan tahunan kepada fakir miskin.
Bagi Elang, sedekah itu tidak perlu banyak tapi yang paling penting adalah
kontinuitas dari sedekah tersebut. Meski jumlahnya kecil, tapi jika
dilakukan secara rutin, itu lebih baik daripada banyak tapi tidak rutin.
Elang sendiri terbilang sebagai salah satu sosok pengusaha muda yang sukses
dalam merintis bisnis di tanah air. Prestasinya patut diapresiasi dan
dijadikan suri tauladan bagi anak-anak muda yang lain. Bagi Elang, semua
anak muda Indonesia bisa menjadi orang yang sukses, karena kelebihan manusia
dengan ciptaan mahkluk Tuhan yang lain adalah karena manusia diberi akal.
Dan, ketika manusia lahir ke dunia dan sudah bisa mulai berfikir, manusia
itu seharusnya sudah bisa mengarahkan hidupnya mau dibawa kemana. “Kita
hidup ibarat diberi diary kosong. Lalu, tergantung kitanya mau mengisi
catatan hidup ini. Mau hura-hurakah? Atau mau mengisi hidup ini dengan
sesuatu yang bermanfaat bagi yang lain,” ucapnya berfilosof. Ketika
seseorang sudah bisa menetapkan arah hidupnya mau dibawa kemana, tinggal
orang itu mencari kunci-kunci kesuksesannya, seperti ilmu dan lain
sebagainya.
Menjaga Masjid. Adapun kunci kesuksesan Elang sendiri berawal dari perubahan
gaya hidupnya saat kuliah semester lima. Pada siang hari, Elang bak singa
padang pasir. Selain kuliah, ia juga menjalankan bisnis mencari
peluang-peluang bisnis baru, negosiasi, melobi, dan sebagainya. Namun ketika
malam tiba, ia harus menjadi pelayan Tuhan, dengan menjadi penjaga Masjid.
“Setiap malam dari semester lima sampai sekarang saya tinggal di Masjid yang
berada dekat terminal Bogor. Dari mulai membersihkan Masjid, sampai
mengunci, dan membukakan pintu pagar untuk orang-orang yang akan shalat
Shubuh, semua saya lakukan,” ujarnya merendah.
Elang mengaku ketika menjadi penjaga Masjid ia mendapat kekuatan pemikiran
yang luar biasa. Bagi Elang, Masjid selain sebagai sarana ibadah, juga
tempat yang sangat mustajab untuk merenung dan memasang strategi. “Dalam
halaman masjid itu juga ada pohon pisang dan di sampingnya gundukan tanah.
Saya anggap itu adalah kuburan saya. Ketika saya punya masalah saya merenung
kembali dan kata Nabi, orang yang paling cerdas adalah orang yang mengingat
mati,” ujarnya.
Ikut Lomba Wirausaha Muda Mandiri Karena Tukang Koran “Ghaib”
Elang semakin dikenal khalayak luas ketika berhasil menjadi juara pertama di
ajang lomba wirausaha muda mandiri yang diadakan oleh sebuah bank belum lama
ini. Keikutsertaan Elang dalam lomba tersebut sebenarnya berkat informasi
dari koran yang ia dapatkan lewat tukang koran “ghaib”. Kenapa “ghaib”?,
sebab setelah memberi koran, tukang koran itu tidak pernah kembali lagi
padahal sebelumnya ia berjanji untuk kembali lagi.
Peristiwa aneh itu terjadi saat ia sedang mencuci mobil di depan rumahnya.
Tiba-tiba saja ada tukang koran yang menawarkan koran. Karena sudah
langganan koran, Elang pun menolak tawaran tukang koran itu dengan
mengatakan kalau ia sudah berlangganan koran. Tapi anehnya musti sudah
mengatakan demikian, si tukang koran itu tetap memaksa untuk membelinya,
karena elang tidak mau akhirnya si tukang koran itu memberikan dengan
cuma-cuma kepada elang dan berjanji akan kembali lagi keesokan harinya.
Karena diberi secara cuma-cuma, akhirnya Elang pun mau menerimanya.
Setelah selesai mencuci mobil, Elang langsung menyambar koran pemberian
tukang koran tadi. Setelah membaca beberapa lembar, Elang menemukan satu
pengumuman lomba wirausaha muda mandiri. Merasa sebagai anak muda, ia
tertantang untuk mengikuti lomba tersebut. Elang pun membawa misi bahwa
wirausaha bukan teori melainkan ilmu aplikatif. Saat lolos penjaringan dan
dikumpulkan di Hotel Nikko Jakarta, Elang bertemu dengan seorang Bapak yang
anaknya sedang sakit keras di pinggir jalan bundaran Hotel Indonesia. Elang
merasa ada dua dunia yang sangat kontras, di satu sisi ada orang tinggal di
hotel mewah dan makan di restoran, tapi di sisi lain ada orang yang tinggal
di jalanan. Akhirnya, pada malam penganugerahan, tim juri memutuskan
Elanglah yang menjadi juaranya. Padahal kalau diukur secara omset,
pendapatannya berbeda jauh dengan para pengusaha lainnya.
Dari Juara I Wirausaha itu, Elang membawa hadiah sebesar Rp 20 juta,
ditambah tawaran kuliah S2 di Universitas Indonesia. Melalui lomba itu,
terbukalah jalan cerah bagi Elang untuk menapaki dunia wirausaha yang lebih
luas.
Ingin Membawahi Perusahaan yang Mempekerjakan 100 Ribu Orang
Perjalanan Elang dalam merintis bisnis properti, tidak selamanya berjalan
mulus. Pada awal-awal merintis bisnis ini, ia banyak sekali mengalami
hambatan, terutama ketika akan meminjam modal dari Bank. Sebagai mahasiswa
biasa, tentunya perbankan merasa enggan untuk memberikan modal. Padahal,
prospek bisnis properti sangat jelas karena setiap orang pasti membutuhkan
rumah. “Beginilah jadi nasib orang muda, susah orang percaya. Apalagi
perbankan. Orang bank bilang lebih baik memberikan ke tukang gorengan
daripada ke mahasiswa,” ungkapnya.
Meski sering ditolak bank pada awal-awal usahanya, Elang tidak pernah patah
semangat untuk berbisnis. Baginya, kalau bank tidak mau memberi pinjaman,
masih banyak orang yang percaya dengan anak muda yang mau memberi pinjaman.
Terbukti dengan hasil jerih payahnya selama ini sehingga bisa berjalan.
Ada banyak impian yang ingin diraih Elang, di antaranya membentuk organisasi
Maestro Muda Indonesia dan membawahi perusahaan yang mempekerjakan karyawan
100 ribu orang.
Ketika ditanya cita-cita terbesarnya, Elang pun segera menjawab bahwa ke depan Dia sedang berupaya membangun sebuah holding company layaknya Temasek di Singapura yang berperan untuk mengakuisisi berbagai aset perusahaan lain. Cita-cita ini didasari oleh keprihatinannya terhadap kebijakan pemerintah yang dengan mudah melepaskan saham-saham BUMN kepada pihak asing seperti yang terjadi pada Indosat. Kalaulah pemerintah terpaksa harus menjual saham BUMN, maka jual-lah itu pada bangsa sendiri bukan bangsa asing. Elang bertekad untuk mengambil alih kembali (buyback) aset-aset strategis seperti BUMN ke tangan bangsa Indonesia.
ECO sendiri adalah Sebuah kelompok kecil anak" yg mendedikasikan diri Untuk belajar dan mengajarkan pada anak" lain mengenai masalah" lingkungan.
Dan mereka pun diundang menghadiri Konfrensi Lingkungan hidup PBB tahun 1992, dimana pada saat itu Seveern yg berusia 12 Tahun memberikan sebuah pidato kuat yg memberikan pengaruh besar ( dan membungkam ) beberapa pemimpin dunia terkemuka.
Apa yg disampaikan oleh seorang anak kecil ber-usia 12 tahun hingga bisa membuat RUANG SIDANG PBB hening, lalu saat pidatonya selesai ruang sidang penuh dengan orang" terkemuka yg berdiri dan memberikan Tepuk Tangan yg meriah kepada anak berusia 12 tahun.
Inilah Isi pidato tersebut: ( sumber The Collage Foundation )
Halo, nama Saya Severn Suzuki, berbicara mewakili E.C.O - Enviromental Children Organization
Kami Adalah Kelompok dari kanada yg terdiri dari anak" berusia 12 dan 13 tahun. Yang mencoba membuat Perbedaan: Vanessa Suttie, Morga, Geister, Michelle Quiq dan saya sendiri. Kami menggalang dana untuk bisa datang kesini sejauh 6000 mil. Untuk memberitahukan pada anda sekalian orang dewasa bahwa anda harus mengubah cara anda, Hari ini Disini juga. Saya tidak memiliki agenda tersembunyi. Saya menginginkan masa depan bagi diri saya saja.
Kehilangan masa depan tidaklah sama seperti kalah dalam pemilihan umum atau rugi dalam pasar saham. Saya berada disini untuk berbicara bagi semua generasi yg akan datang.
Saya berada disini mewakili anak" yg kelaparan di seluruh dunia yang tangisannya tidak lagi terdengar.
Saya berada disini untuk berbicara bagi binatang" yang sekarat yang tidak terhitung jumlahnya diseluruh planet ini karena kehilangan habitat nya. kami tidak boleh tidak di dengar.
Saya merasa takut untuk berada dibawah sinar matahari karena berlubang nya lapisan OZON. Saya merasa takut untuk bernafas karena saya tidak tahu ada bahan kimia apa yg dibawa oleh udara.
Saya sering memancing di di Vancouver bersama ayah saya hingga beberapa tahun yang lalu kami menemukan bahwa ikan"nya penuh dengan kanker. Dan sekarang kami mendengar bahwa binatang" dan tumbuhan satu persatu mengalami kepunahan tiap harinya - hilang selamanya.
Dalam hidup saya, saya memiliki mimpi untuk melihat kumpulan besar binatang" liar, hutan rimba dan hutan tropis yang penuh dengan burung dan kupu". tetapi sekarang saya tidak tahu apakah hal" tersebut bahkan masih ada untuk dilihat oleh anak saya nantinya.
Apakah anda sekalian harus khawatir terhadap masalah" kecil ini ketika anda sekalian masih berusia sama serperti saya sekarang?
Semua ini terjadi di hadapan kita dan walaupun begitu kita masih tetap bersikap bagaikan kita masih memiliki banyak waktu dan semua pemecahan nya. Saya hanyalah seorang anak kecil dan saya tidak memiliki semua pemecahan nya tetapi saya ingin anda sekalian menyadari bahwa anda sekalian juga sama seperti saya!
Anda tidak tahu bagaimana caranya memperbaiki lubang pada lapisan ozon kita.
Anda tidak tahu bagaiman cara mengembalikan ikan" salmon ke sungai asal nya.
Anda tidak tahu bagaimana caranya mengembalikan binatang" yang telah punah.
Dan anda tidak dapat mengembalikan Hutan-Hutan seperti sediakala di tempatnya yang sekarang hanya berupa padang pasir.
Jika anda tidak tahu bagaima cara memperbaikinya.
TOLONG BERHENTI MERUSAKNYA!
Disini anda adalah deligasi negara-negara anda. Pengusaha, Anggota perhimpunan, wartawan atau politisi - tetapi sebenernya anda adalah ayah dan ibu, saudara laki" dan saudara perempuan, paman dan bibi - dan anda semua adalah anak dari seseorang.
Saya hanyalah seorang anak kecil, namun saya tahu bahwa kita semua adalah bagian dari sebuah keluarga besar, yang beranggotakan lebih dari 5 milyar, terdiri dari 30 juta rumpun dan kita semua berbagi udara, air dan tanah di planet yang sama - perbatasan dan pemerintahan tidak akan mengubah hal tersebut.
Saya Hanyalah seorang anak kecil namun begitu saya tahu bahwa kita semua menghadapi permasalahan yang sama dan kita seharusnya bersatu untuk tujuan yang sama.
Walaupun marah, namun saya tidak buta, dan walaupun takut, saya tidak ragu untuk memberitahukan dunia apa yang saya rasakan.
Di Negara saya, kami sangat banyak melakukan penyia-nyiaan, kami membeli sesuatu dan kemudian membuang nya, beli dan kemudian buang. walaupun begitu tetap saja negara" di utara tidak akan berbagi dengan mereka yang memerlukan.
Bahkan ketika kita memiliki lebih dari cukup, kita merasa takut untuk kehilangan sebagian kekayaan kita, kita takut untuk berbagi.
Di Kanada kami memiliki kehidupan yang nyaman, dengan sandang, pangan dan papan yang berkecukupan - kami memiliki jam tangan, sepeda, komputer dan perlengkapan televisi.
Dua hari yang lalu di Brazil sini, kami terkejut ketika kami menghabiskan waktu dengan anak" yang hidup di jalanan. Dan salah satu anak tersebut memberitahukan kepada kami: " Aku berharap aku kaya , dan jika Aku kaya, Aku akan memberikan anak" jalanan makanan, pakaian dan obat-obatan, tempat tinggal . dan Cinta dan Kasih sayang " .
Jika seorang anak yang berada dijalanan yang tidak memiliki apapun, bersedia untuk berbagi, mengapa kita yang memiliki segalanya masih begitu serakah?
Saya tidak dapat berhenti memikirkan bahwa anak" tersebut berusia sama dengan saya , bahwa tempat kelahiran anda dapat membuat perbedaan yang begitu besar. bahwa saya bisa saja menjadi salah satu dari anak" yang hidup di Favellas di Rio; saya bisa saja menjadi anak yang kelaparan di Somalia ; seorang korban perang timur tengah atau pengemis di India .
Saya hanyalah Seorang anak kecil namun saya tahu bahwa jika semua Uang yang dihabiskan untuk perang dipakai untuk mengurangi tingkat kemisikinan dan menemukan jawaban terhadap permasalahan alam, betapa indah jadinya dunia ini.
Di sekolah, bahkan di taman kanak-kanak anda mengajarkan kami untuk berbuat baik. Anda mengajarkan pada kami untuk tidak berkelahi dengan orang lain.
Mencari jalan keluar, membereskan kekacauan yang kita timbulkan.
Tidak menyakiti makhluk hidup lain, Berbagi dan tidak tamak.
Lalu mengapa anda kemudian melakukan hal yang anda ajarakan pada kami supaya tidak boleh dilakukan tersebut?
Jangan lupakan mengapa anda menghadiri Konfrensi ini. mengapa anda melakukan hal ini - kami adalah anak" anda semua , Anda sekalianlah yang memutuskan dunia seperti apa yang akan kami tinggali. Orang tua seharus nya dapat memberikan kenyamanan pada anak" mereka dengan mengatakan " Semuanya akan baik-baik saja ". 'kami melakukan yang terbaik yang dapat kami lakukan' dan ' ini bukanlah akhir dari segalanya'
Tetapi saya tidak merasa bahwa anda dapat mengatakan hal tersebut kepada kami lagi. Apakah kami bahkan ada dalam daftar prioritas anda semua?
Ayah saya selalu berkata ' kamu akan selalu dikenang karena perbuatan mu bukan oleh kata" mu '
Jadi, apa yang anda lakukan membuat saya menangis pada malam hari. kalian orang dewasa berkata bahwa kalian menyayangi kami.
Saya menantang A N D A , cobalah untuk mewujudkan kata" tersebut.
Sekian dan terima kasih atas perhatian nya.
Servern Cullis-Suzuki telah membungkam 1 ruang sidang Konfrensi PBB, membungkam seluruh Orang" penting dari seluruh dunia hanya dengan pidatonya, setelah pidato nya selesai serempak seluruh Orang yang hadir diruang pidato tersebut berdiri dan memberikan tepuk tangan yang meriah kepada anak berusia 12 tahun.
dan setelah itu ketua PBB mengatakan dalam pidato nya..
" Hari ini Saya merasa sangatlah Malu terhadap Diri saya sendiri karena saya baru saja disadarkan betapa pentingnya lingkungan dan isi nya disekitar kita oleh Anak yang hanya berusia 12 tahun yang maju berdiri di mimbar ini tanpa selembar pun Naskah untuk berpidato, sedang kan saya maju membawa berlembar naskah yang telah dibuat oleh assisten saya kemarin. Saya ... tidak kita semua dikalahkan oleh anak yang berusia 12 tahun "
Saturday, February 7, 2009
Susi Pujiastuti Sambung Nelayan Pangandaran Dengan Pasar Dunia
Dulu ia pengepul ikan di desa pesisir Jawa Barat. Kini ia pebisnis hasil laut segar (lobster, tuna, udang, kakap) Indonesia dengan pasar ekspor yang bernilai jutaan dolar AS per tahun. Ia mengisi kebutuhan hasil laut yang murni, bebas pengawet, di dalam negeri dan juga di luar negeri — - dengan jaminan selalu fresh karena ia memiliki armada pesawat yang bisa mengantar pesanan lebih cepat ke tempat tujuan.
Susi Pujiastuti adalah contoh sosok pebisnis sukses yang berangkat dari nol. Jangan tanya teori kepadanya. Ia tidak pernah dibekali ilmu akademis. SMA tidak selesai. Jadi ketika ditanya apa formula kesuksesannya sebagai pebisnis, ia cuma menyatakan: “Menurut saya ilmu ekonomi itu alamiah. Kalau orang mau berdagang, ya sediakan barang yang bagus, kasih harga yang bagus, begitu saja.”
Pesisir Pangandaran, yang dikenal sebagai salah satu tujuan wisata Jawa Barat, adalah pijakan usaha Susi dari awal hingga kini. Dari menjual gelang, kalung dan cincin miliknya, perempuan kelahiran Jawa ini mempunyai modal Rp 750.000,- untuk mulai berusaha sebagai pengepul-ikan pada tahun 1983. Pertama ia hanya mampu membeli 1 kg ikan, hari berikutnya 2 kg, hari berikutnya lagi 5 kg dan seterusnya. Dalam waktu hanya satu tahun, ia sudah menembus pasar besar Cilacap, Jawa Barat.
Dari keuntungan yang ia tabung, Susi kemudian membuka usaha sewa-menyewa perahu serta mobil angkutan hasil-laut bagi para nelayan. Armadanya kini memiliki ratusan perahu nelayan dan truk. Karena mampu menjamin kesediaan produksi hasil laut yang rutin, beberapa pabrik besar di Jakarta memilihnya sebagai pemasok hasil laut tetap.
Selama bertahun-tahun ia harus mendampingi pasokannya menempuh jarak ratusan kilometer pulang-pergi Pangandaran-Jakarta. Berangkat jam 3 sore, lalu mampir di Cikampek untuk ambil pesanan kodok, pada malam hari baru sampai di Jakarta. Setelah mandi dan istirahat, ia langsung kembali ke Pangandaran. “Begitu tiap hari,” kenang Susi yang kini sudah menembus pasar internasional dengan PT ASI Pudjiastuti Marine Products.
Selalu Menciptakan Nilai Tambah
Sebagai penekun usaha hasil laut, ia memahami betul bahwa kadar kesegaran suatu hasil laut menentukan nilai jual. Misalnya, ikan atau udang yang sudah sampai di Jepang dalam waktu kurang dari 24 jam akan bisa dihargai lebih dari dua-kali lipat lebih mahal. Ikan laut yang dihargai US$3/kg bisa dijual US$8/kg apabila diantar kurang dari 24 jam. Untuk bisa menjamin nilai fresh pasokannya, ia pun membangun armada pesawat kargo sendiri dengan jalur domestik dan internasional. Ia menamakan armada udaranya ini, Susi Air. Awalnya untuk menjamin layanan express produksinya, kini Susi Air telah mengembangkan diri menjadi pesawat carteran yang andal untuk menjangkau tempat-tempat terpelosok, seperti di Aceh dan Papua.
Dari pergelutan langsung dengan pasarnya selama tahunan, Susi pun melihat kenyataan yang tidak bisa diabaikan di pasar dunia. Nilai lain yang bisa mengangkat harga jual produksinya adalah kemurnian, bebasnya hasil laut dari pencemaran dan bahan pengawet. Dengan cekat, ia pun membangun pabrik pengolahan ikan tanpa bahan pengawet. Sadar lingkungan juga menjadi nilai yang ditambahkan pada hasil produksinya sehingga ia memilih pabrik pengolah ikan dengan pendingin amoniak bukan bahan freon yang merusak lapisan ozon.
Susi adalah pebisnis yang menyadari bahwa keberhasilan usaha didukung oleh semangat kerja setiap karyawan yang terlibat. Maka ia bertekad menyediakan fasilitas kerja yang manusiawi, yang membuat para karyawannya merasa nyaman dan bersemangat. Ia pun membangun pabrik berukuran 3.000 m2 dengan disain mirip sebuah mal, dilengkapi penyejuk-udara.
Pabrik-pabriknya mengerjakan sekitar 500 karyawan dan menampung hasil laut dari sekitar 5.000 nelayan. Pada tahun 2004 ia menerima Anugerah Purwacitra Priangan atas jasanya memberdayakan masyarakat nelayan dan kepeduliannya pada lingkungan dan nilai kemanusiaan. Pada tahun berikut, Ernst & Young memilihnya sebagai salah satu Entrepreneur of The Year 2005.
Wednesday, February 4, 2009
MEMBONGKAR RAHASIA REALITY SHOW TV serta TIPS MEMBEDAKAN MANA YG BOHONG DAN BENER !
SEMUA TULISAN INI GUE BUAT SENDIRI BERDASARKAN BERBAGAI INFO (pengalaman berkecimpung didunia ini) DAN PENGETAHUAN AKADEMIS GUE YANG BERTUJUAN UNTUK MENJAWAB SEMUA KERAGUAN DAN PERTANYAAN DARI PARA PENONTON SELAMA INI, MENGENAI BENER ATAU TIDAKNYA SEBUAH REALITY SHOW ITU.
beberapa rahasia tekhnis yg dipaparkan dibawah semuanya sudah pernah dijalankan oleh penulis jadi bukan sesuatu yg mengira2 atau menuduh tanpa bukti. DAN PASTINYA BUKAN BERARTI BERTUJUAN KONTRA TERHADAP DUNIA PERTELEVISIAN SAAT INI, SEBAB PENULIS SENDIRI MASIH BEKERJA DALAM DUNIA ENTERTAINMENT DAN PERTELEVISIAN ITU JUGA KOG HINGGA SAAT INI !
reality show sebenarnya hanya berupa sebuah hiburan semata.
walaupun bertajuk reality show, namun sebenarnya sudah dibumbui dengan berbagai dramatisasi atau pengadeganan, dengan mengikuti skenario yang tujuannya adalah untuk menarik penonton sebanyak2nya.
mengapa harus dibumbui ?
ya ibarat sayur kalo gk dibumbui kan juga gak enak rasanya..jadi memang pasti perlu adanya sentuhan2 dramatis agar lebih menggigit ditontonnya.
jika sebuah acara reality show di buat tanpa pengadeganan sama sekali maka MUSTAHIL !
sebab jika bener2 real semuanya, maka acara itu tidak akan bertajuk reality show lagi tetapi mungkin lebih tepat akan menjadi acara DOKUMENTER
jadi selama nama acaranya itu reality show tentunya tidak akan murni real sama sekali ! dalam arti kata mungkin ada yang real tetapi ada juga yang di dramatisir. tergantung skrg berapa persen perimbangannya. apakah lebih besar kebohongannya atau yang benarnya.
jika ada sebuah stasiun TV yang ngotot mengklaim reality shownya asli beneran seluruhnya maka sebaiknya tajuk acaranya diganti aja dengan DOKUMENTER
beberapa acara reality show indonesia yang masih bisa disebut real atau persentase kebenarannya lebih besar dari dramatisasi atau kebohonganya, adalah :
BEDAH RUMAH, UANG KAGET, TOLONG dll.
mengapa gue katakan persentase kebenarannya lebih banyak daripada dramatisasinya alias fakenya ?
sebab ada banyak hal yang benar2 dilakukan disana : seperti membantu orang yang tidak punya untuk memperbaiki rumah mereka dll..
tetapi memang ada sedikit dramatisasi/sedikit kebohongan yang tidak akan nampak jika kita menontonnya dilayar kaca. misalnya : waktu pembangunan rumah yang sebenarnya tidak betul harus 12 jam spt itu. membangun rumah bukanlah hal yang mudah. makanya diperlukan waktu yang cukup lama.
bahkan, masih ingat dulu ada acara HIPNOTIS ROMY RAFAEL di SCTV ?
bermula dari rasa penasaran gue ketika ada seorang temen gue yang bersaksi bahwa dia pernah dibayar untuk berpura2 di hipnotis dalam acara itu. maka gue pun tertarik mencari tahu kebenarannya. suatu ketika dalam sebuah kerjaan gue ketemu dgn salah satu tim produksi acara itu.
setelah gue tanyakan langsung ke seorang tim produksinya yang mengerjakan acara itu, maka jawaban mereka adalah :
"menghipnotis orang tidaklah bisa dalam waktu singkat seperti yang ada dalam tayangan itu dan itu juga diakui oleh mas romy sendiri kog". jadi bukan hanya dgn menjentikkan jari langsung si target terhipnotis begitu.
lalu kata gue : jadi intinya ? itu semua fake ?
lalu jawab tim produksinya : ya,...sebagian besar memang fake krn mereka harus mengejar jam tayang setiap minggunya.
namun ada juga yg beneran namun sebenarnya butuh waktu lama. makanya romy akan menghipnotis orang itu 2 jam sebelumnya.lalu ketika hipnotis sudah bekerja barulah syuting dilanjutkan lagi. nah, yg muncul di TV nanti yg sudah di edit seakan2 rommy hanya menjentikkan jari seketika itu juga si target terhipnotis !
ya tapi persentase antara org2 yg bener2 dihipnotis dengan yg fake adalah banyakan yg difake supaya memudahkan produksi cepat kelar beberapa episode dalam sehari. makanya banyak aktor dadakan yg dibayar untuk berpura2 terhipnotis.
Ilmu hipnotis Romy rafael tentunya memang berbeda dgn ilmu hitam yg digunakan para penjahat buat menghipnotis korbannya di terminal2. kalau itu kan mereka menggunakan jampi jampi atau jimat sementara romy enggak.
memang ada juga beberapa reality show yang ketahuan banget bohongannya seperti acara2 di SCTV itu kayak pacar pertama, backstreet dll. bahkan reality show di Trans TV pun ada beberapa yang ketahuan banget bohongnya bahkan bisa jadi full skenario.
Namun tahukan anda bahwa sebenarnya beberapa reality show di AMERIKA pun sebenarnya banyak yang bohongan ??
hanya saja mereka lebih pintar menggarapnya sehingga tidak keliatan bohongan.
sebuah acara infotainment disana yang bertajuk :"100 secrets of hollywood" telah membuka rahasia ini dengan menyebutkan bahwa acara
THE BACHELORETTE (acara seorang cewek yg nyari pasangan cowok buat nikah)
dan beberapa acara reality show lainnya seperti SURVIVOR ternyata penuh dengan FAKE alias kebohongan !
contoh yang berhasil ditunjukkan adalah adegan ketika para peserta acara SURVIVOR tsb akan menuju kamp nya dari sebuah tempat yang jauuuh banget.
dalam tayangan yg disaksikan penonton dibuat dan di dramatisir seakan2 para peserta berjalan dengan susah payah dan kelelahan.
padahal sebenarnya diperlihatkan dibalik layarnya, mereka enak enakan naik mobil kru kameramen dll.
begitupula ketika ada adegan mereka kelaparan.mana mungkin kru disitu tega melihat mereka kelaparan sementara kru makan terus ?
hanya yang cukup salut, pembuat acara ini berhasil membuat seakan2 para peserta itu bener2 terdampar dipulau itu tanpa ada kru sama sekali. kita tidak merasakan adanya kehadiran kru disana.
padahal ketika diperlihatkan dibalik layarnya ternyata kru yang syutingnya segambreng ada diantara mereka.
selain acara SURVIVOR, acara kesukaaan kita FEAR FACTOR pun sebenarnya juga tak luput dari beberapa adegan dramatisasi meskipun banyak pula adegan yg bener2 asli ada.
salah satunya yaitu pada saat adegan si peserta yang kalah berjalan pulang menjauhi kamera.
itu adegan udah didramatisir seakan2 yg kalah harus pulang jalan kaki padahal tempat itu sepi gak ada kendaraan lewat, kakak perempuan gue yang menonton acara itu sempat berkomentar begini : "kasian banget ya dia disuruh pulang sendirian begitu jalan kaki lagi"...ha ha ha nah inilah akibat dari dramatisasi tsb membuat penonton percaya itu beneran padahal kalo gue sih yang udah ngerti berusaha ngejelasin ke kakak gue kalo itu hanya pura2 saja.....yang benerannya mah dia pulang diantar ama kru acara itu lah....
selain itu, ada lagi beberapa adegan tertentu yang berbahaya tidak sepenuhnya dilakukan spt yg terlihat dilayar, semuanya sudah dalam proses cut dan editing sehingga terasa mengalir
reality show PIMP MY RIDE di MTV yg jadi kegemaran banyak anak muda yakni tentang menyulap mobil busuk jadi keren
ini banyak sekali FAKE nya pula meskipun memang benar mereka mereparasi mobil menjadi bagus itu benar.
bahkan para pemainnya sudah membeberkan rahasianya secara terbuka, dan sudah pernah diulas disebuah majalah besar di Indonesia (kalo gak salah majalah HAI edisi 3 tahun lalu)
salah satu kebohongan mereka adalah ketika adegan mengerjakan mobil2 tsb.
sebenarnya yg mengerjakan mobil2 itu adalah para montir yg bener orang bengkel. sementara si aktor2 yg bergaya rapper itu hanya berakting saja. mereka lalu baca skenario saja menjelaskan seakan2 itu ide mereka.
scene adegan meeeting menentukan bagaimana design mobil juga penuh pengadeganan. intinya itu dibuat seperti sebuah sinetron yang diambil satu persatu shot nya.
bahkan banyak adegan salahnya ketika mereka salah ngafalin skenarionya.
dibuat skenarionya si A jago merubah pelg, si B jagonya mendesain interior dan seterusnya.
waktu pengerjaan mobil sendiri sebenarnya lebih lama ketimbang yang disebutkan di acara.
yang kasiannya tidak pernah diperlihatkan para montir yang susah payah ngerjain mobil itu sehingga penonton mengira yg mengerjakan adalah beberapa aktor yg jago nge-rap itu. biasanya yang ditampilkan di tv seakan akan hanya satu atau dua orang pekerja saja yg mengerjakan padahal yang sebenarnya itu mobil dikeroyok rame2 ama para pekerja bengkel asli dan prosesnya lama sekali.
ada lagi yang terungkap, ketika acara 100 secrets of hollywood mewawancarai pemenang acara THE BACHELORETTE yang katanya kini sudah menikah yakni Trista dan ryan yg didapat dari acara tsb dan juga mendapat hadiah sejuta dolar menurut acara tsb.
wartawan menanyakan rahasia dibalik reality show ini.
namun si Trista berkata : sesungguhnya uang untuk menutup mulut kami lebih besar daripada hadiah yang kami dapatkan dalam acara ini. (dia make bahasa kiasan untuk nolak bicara)
nah dari sini aja sudah bisa disimpulkan bahwa ada sebuah rahasia besar dalam dunia reality show ini. yg pasti si cewek tetap gak mau membeberkan rahasia sebenarnya dan apakah beneran mereka mendapatkan hadiah sejuta dollar itu ? sama halnya dgn di SURVIVOR hadiah sejuta dollar tetap dipertanyakan oleh para wartawan apakah hanya bohongan aja ? dan sampe skrg semua pemenangnya gak ada yg mau jawab.
intinya :
baik di indonesia maupun diluar negeri sama sama menggunakan skenario dan pengadeganan dalam reality shownya..hanya saja yang membedakan adalah :
para aktor luar sana lebih pintar berakting meyakinkan kita bahwa itu bukan akting alias real ketimbang aktor2 kita yang ketahuan banget aktingnya kaku sehingga tidak bisa menciptakan kesan real pada otak penonton
jadi soal nipu penonton, lebih hebat sutradara dan aktor sana
APAKAH BERARTI INI MEMBOHONGI PENONTON ???
selama mereka berbohong dengan tujuan untuk menghibur (tidak ada tujuan lain) sebenarnya sah sah saja dan tidak apa apa kog....yang penting acara itu bisa menghibur kita.
mengapa saya katakan itu ?
sebab, selama ini sebenarnya semua tayangan yang kita nonton pun sekalipun itu bukan reality show kan dibuat dengan membohongi kita.
contoh :
ketika kita menonton sebuah film superhero, dan melihat jagoan kita bisa terbang atau melayang spt spiderman...bukankah itu sesuatu kebohongan juga ???
lalu kalau itu kebohongan efek grafis atau tipuan kamera belaka,..mengapa kita malah senang dan terhibur tanpa merasa dibohongi ? hanya bedanya memang kita sudah sadar sedari awal kalo itu hanyalah sebuah film yg didramatisir.
lalu mengapa kita gak protes ?
jawabannya adalah :
karena kita memang butuh dihibur sekalipun harus dibohongin dgn trik2 perfilman...
kita nangis menonton sebuah film padahal kita tahu itu hanya pura2 saja alias akting, krn kita memang pengen ditipu dgn akting yg menghibur sehingga membuat kita menangis
kita ketakutan dgn film horor padahal kita tahu itu setan bohongan dgn trik2 film. tapi emang kita seneng kog ditipu seperti itu, yang penting terhibur
jadi intinya selama reality show itu tidak bertujuan negatif untuk merusak keyakinan,kampanye terselubung,politik dll...sebenarnya tidak perlu dipersoalkan lagi...
toh tujuan mereka hanya satu : untuk menghibur
lalu kalo ada yg bilang mengapa mereka tidak jujur aja mengakui atau memberi tanda bahwa acaranya itu bukan real pada penonton ?
ya jawabannya adalah : jika dikasih tahu itu bohongan dari awal pastinya gak bakal seru lagi deh tuh acara.
sebab acara jenis ini kan sudah mempunyai genre sendiri.
sekali lagi, jika acaranya itu sudah 100 % real maka tidak kan disebut reality show lagi tetapi akan disebut sebagai DOKUMENTER
REALITY SHOW menjadi seakan akan real gara2 penontonlah yg mengklaim dan menganggap itu beneran ! bukan dari produser ataupun TV tersebut.
bahkan bukan hanya acara TV saja yg bisa diklaim real oleh penonton
sebuah contoh dari luar :
masih ingat film The blair with project ?
http://ardhi108.blogsome.com/wp-admi...oject_ver3.jpg
dulu film ini sempat box office tahun 2000 an awal. film ini menjadi menarik krn dibuat oleh beberapa mahasiswa dgn menggunakan handycam dan seakan akan berupa dokumenter perjalanan mereka memasuki sebuah hutan terlarang. dan diceritakan dalam film itu satu persatu semuanya hilang dan film yg kita saksikan tsb adalah hasil dari handycam mereka yg ditemukan tergeletak sendirian ditengah hutan oleh polisi.
banyak orang percaya 100 % bahwa film itu beneran meskipun si pembuat film sudah mengklaim bahwa itu hanya sebuah film yang digarap dgn skenario dan bukan dokumenter.
lalu akibat kesuksesan film itu, maka keluarlah sebuah film lagi berjudul St. Francisville Experiment.
http://ecx.images-amazon.com/images/...500_AA240_.jpg
nah film ini cara penggarapannya sama dgn blair with the project. meskipun ceritanya beda krn mengisahkan tentang sekelompok anak muda yg berexperiment menginap disebuah villa hantu sambil mendokumentasikan adegan mereka menggunakan handycam.
gilanya, si produser film ngotot mengklaim bahwa filmnya itu beneran asli alias bukan pengadeganan sama sekali.bahkan dia mengatakn ini adalah dokumenter.
bahkan sampai2 mereka mencantumkan nama para pemainnya sebagai para partisipan atau peserta dalam acara yg mirip uji nyali itu.
namun apa kesan yg gue tangkap bersama temen2 keika menyaksikan film itu dulu di bioskop kita ? ternyata sangat tidak masuk akal sekali jika isi film itu benar2 tanpa pengadeganan.
misalnya saja ketika adegan seseorang membuka lemari yg berbunyi gemeretak. tiba2 begitu pintu dibuka seekor kucing melompat kearah kameranya. ha ha ha ini kan rekayasa pengadeganan.....
ada lagi ketika adegan endingnya mereka semua sudah terikat disebuah ruang penyiksaan, sementara handycam mereka masih merekam terus krn jatuh tergeletak dilantai dan anglenya tepat banget mengarah ke mereka, masa sih bisa begitu ? pastinya kan udah disetting tuh kayak bikin film.masa hantu bisa megang kamera ?
di Amerika sendiri, film ini banyak dikecam oleh orang2 yg dianggap sangat jelas sekali bohongnya.
bagi yg mau menilai itu beneran ato enggak silahkan cari filmnya di google dan nonton.
maka keluarlah filosofi spt ini :
BUAT APA MEMBUAT SESUATU YANG REAL SEMENTARA BELUM TENTU SEMUA ORANG PERCAYA ITU REAL
TETAPI JIKA KITA MEMBUAT SESUATU YANG FAKE BISA JADI MALAH BANYAK YANG PERCAYA BAHWA ITU REAL !
KARENA ITU, NGAPAIN CAPEK2 MEMBUAT SESUATU YANG BENER2 REAL KALO YANG FAKE AJA TERNYATA DISANGKA REAL ?
tapi itulah sekelumit contoh bahwa dunia hiburan memang kadang sedikit gak jujur demi untuk MENGHIBUR KITA
TIPS UNTUK MENGETAHUI APAKAH REALITY SHOW ITU BOHONGAN ATAU BENERAN :
sekalipun mungkin kita sudah banyak yang menduga bahwa semua itu bohongan :
1.melalui akting para pemainnya yg gak natural
2. Pada tayangan "termehek mehek" tgl 28 September tentang seorang anak yg diculik oleh bos preman. lalu tim termehek mehek padahal udah tahu rumah bos preman itu ceritanya. ANEH KAN ? kasus kriminal kog gak dilaporin polisi? penculikan lagi ! acara yg sangat tdk mendidik krn mengajarkan kita untuk tdk melapor ke polisi jika terjadi sebuah kejahatan.
lewat logika aja, jika sebuah masalah pelik menyangkut hukum dan sosial diselesaikan hanya oleh kru acara termehek2 misalnya,..lalu apa gunanya polisi ? kenapa kasus2 itu tdk pernah diangkat dimajalah manapun atau dilaporin polisi jika memang bener2 pernah terjadi ? di indonesia ini kasus sekecil apapun pasti bakalan cepet masuk media.
emangnya kru acara itu lebih tinggi wewenangnya menyelesaikan masalah ketimbang aparat yg berwenang ?
jawabnya adalah : ya ...ngapain polisi ikut campur, masalahnya itu kan cuman buatan skenario aja. cuman ya buat produser acara itu, ya kalo pake skenario dibuat yg agak logis dikit donk jgn ketahuan banget bohongnya.
3. Apakah mengintip atau mengambil gambar tanpa ijin itu dilegalkan oleh hukum dinegara kita ? lalu acara playboy kabel dan mata mata yg menjebak dan mengintip targetnya itu bukannya pelanggaran hak seseorang? kenapa si target yg diintip tidak menuntut para kru ? ya karena hanya pura2 saja diintipnya.
4. bagaimana jika seandainya kamu yang dijadikan target diacara itu ? dipermalukan didepan seluruh penonton indonesia, bukankah itu aib ? apakah kamu bersedia mengijinkan acara itu tetap ditayangkan ? kalo ada yg jawab bersedia berarti dia manusia muka tembok ! ha ha ha..secara manusiawi mana ada orang yg mau dipermalukan didepan umum dan malah mengijinkan bersedia ditayangin begitu aibnya.
HANYA MANUSIA YG TIDAK NORMAL SAJA, ORANG YANG BERSEDIA MEMAMERKAN AIB NYA DIDEPAN UMUM. Lalu apakah berarti semua yg main di acara termehek mehek berarti orang2 sakit jiwa yg tidak tahu malu mengumbar masalah pribadinya yg memalukan ? ya jelas aja mereka berani begitu krn itu kan bukan beneran, hanya akting saja..makanya banyak kasus yg terjadi seorang yg bermain dalam acara itu ditelponin temen2nya krn mengira kasusnya beneran. namun setelah dijelasin barulah temen2 nya paham jika itu semua hanya akting.
lalu mengapa tetap ada sebuah acara yg ngotot menuliskan dibawahnya : acara ini telah mendapatkan persetujuan....
jawab aja sendiri pasti semua juga udah tau jawabannya..he he
5. Apakah mungkin sebuah masalah yg ditayangkan itu betul2 diambil berhari2 bahkan menunggui si target sampai membuang2 waktu kru ?
sedangkan kita tahu reality show itu hanya dibeli jauh dari harga sinetron. 25 juta aja sudah syukur tuh dibeli ama stasiun TV.
nah,..sinetron aja kadang disuruh cepetan buatnya sampe bahkan ada yg buat 2 hari kelar guna hemat biaya produksi. apakah reality show lebih banyak dana produksinya dari sinetron sehingga bisa menghabiskan lebih banyak hari pembuatannya ? gak masuk akal kan ?
yang pasti untuk pembuatan reality show begini malahan produser menuntut kalo bisa dalam satu hari bisa kelar 2 episode.
jadi sungguh tidak masuk diakal jika reality show dikerjakan melebihi waktu pembuatan sinetron.
apalagi mereka kan harus kejar tayang setiap minggunya.
sekarang kita pake contoh pembuatan film/video dokumenter saja yg bener2 asli real 100 %,...adakah dokumenter asli yg bisa dibuat dalam waktu singkat ?? gak ada kan ? perlu riset sampe syuting berhari2 belum lagi menunggui target. sementara kalo reality show kadang baru syuting minggu ini, minggu depan udah tayang tuh...
kalo ada yg bilang acra itu dibuat berbulan2 atau berminggu2, lalu si host nya dibayar berapa ? emang mereka gk ada kerjaaan lain ngikutin klien mereka ? sementara hostnya kan kebanyakan artis sinetron juga atau penyiar radio kayak panda yg harus siaran tiap hari
namun tips seperti dibawah inilah yang akan memastikan secara tekhnis bahwa real atau tidaknya reality show itu. tidak perlu ada keraguan lagi apa real apa fake ya ?....begitu melihat dari reality show yg seperti dijelaskan dibawah ini maka dapat dipastikan 100 % itu fake.
cara paling gampang mengetahuinya adalah, dengerin aja sound setiap pemerannya baik baik. jika suaranya clear alias sangat jelas,besar dan tidak noise alias bercampur dgn atmosfer udara, maka pemain itu berarti memakai CLIP ON MIC yaitu mikrofon yg dipasang dibalik bajunya.
bentuknya spt ini, batrenya itu dimasukkan kebaju dan diselipkan dipunggung
http://cts.rice.edu/rooms/images/equip/lav_mobility.jpg
micnya diletakkan dibalik baju sehingga tidak terlihat
http://www.cybercollege.com/pix/lav2.jpg
ini mudah menjadi bumerang bagi sebuah reality show, yakni ketika ada adegan seorang yang dibuntuti lalu dijebak. nah,..ketika berantem...perhatikan suara mereka kalo semuanya sama dan jernih kualitasnya,volumenya besar, maka berarti itu BOHONGAN !
berarti mereka telah memasangkan mikrofon itu ke setiap pemain dan dgn begitu berarti setiap pemain hanyalah aktor yang berakting.
sebab, jika hanya mengandalkan mic dari si klien, tentunya kualitasnya tidak akan sama besarnya volumenya dengan org yg berada didekatnya namun tdk memakai mic
barusan gue liat cuplikan acara TERMEHEK MEHEK di ULTAH trans TV ada adegan spt itu.
cuplikannya disini :
link youtubenya : http://www.youtube.com/watch?v=zbBKtVIPd6Y
yaitu adegan seorang pria bule yang ketangkap basah berpacaran dgn kakak si adik yg juga dipacarinya.
PERHATIKAN SUARA KETIGA PEMAIN YG BERMAIN DISITU ! SEMUANYA SAMA BESARNYA VOLUMENYA ! bahkan suara si bule itu pun besar pula, bahkan lebih besar volumenya dan clear darpada pemain lainnya (jelas sekali karena make clip on mic) padahal statusnya disitu sebagai si terjebak !
lalu ada adegan mereka berantem adu mulut dan menjauhi seraya mengusir kamera dan kru...namun anehnya....
ketika mereka sudah jauh banget dari kamera, suara mereka masih jelas sekali dan besar volumenya. sementara si klien yang memakai clip on mic berdiri cukup jauh banget dari mereka meski ceritanya berusaha mengejar mereka kedalam. seharusnya kan suaranya beda donk volume antara yg mengenakan mic dan enggak...
ha ha ha ha ha gue hanya bisa tertawa nonton tadi. kog krunya bisa kecolongan gitu ya....
dengan begitu kan ketahuan kalo mereka semua udah dipasangin mikrofon dibajunya.
logikanya kalo emang mereka marah dan mengusir kru yg membuntutinya lantas ngapain mereka make clip on mic dari para kru tsb ???
JIKA HANYA MENGANDALKAN SUARA DARI MIKROFON SI KLIEN YANG MEMANG JELAS TELAH DIPASANGIN,...TENTULAH TIDAK AKAN SAMA BESAR VOLUMENYA (hal ini bisa anda bandingkan dgn acara KENA DEH di An TV yang jelas sekali perbedaan volume suara si PENANYA (panji) dengan target yg sedang dikerjainnya. suara panji jauh lebih besar dan jelas semntara yg ditanya2 olehnya kadang kecil sekali suaranya bahkan sayup sayup. padahal jarak panji dgn dia deket lho.
yang lebih lucu lagi diacara termehek mehek itu, wajah si cowok bule di blur in..seperti seakan2 membuat real kayak di acara investigasi berita kriminal.
sering banget juga adegan yg katany dicuri dari jarak yg jauh sekali kameranya tapi suara si target yg diinvestigasi oleh hostnya sangat jelas dan bagi org yg pernah berkecimpung di dunia film pasti bisa menduga bahwa itu suara dari clip on mic.
bahkan banyak sekali terjadi di reality show Indonesia, banyak batre clip on mic nya yang terlihat ditayangan.
di acara BACKSTREET di SCTV malahan sering seorang yang dikejar kejar alias dibuntuti tanpa sengaja terlihat sedang memakai CLIP ON MIC
ada yg terlhat jelas2 batreinya ketika sedang menunduk terselip dibelakang celananya padahal statusnya ceritanya sedang dibuntuti kru.
untuk mengetesnya, silahkan anda mengambil gambar dengan kamera tanpa clip on mic lalu berbicara dengan teman anda dipinggir sebuah jalan raya/parkiran.
lalu dengarkan suaranya baik2. tentunya akan berisik suara kendaraan dan angin terdengar jelas alias banyak noisenya.
nah,..setelah itu coba perhatikan sebuah adegan di reality show cinta2an itu....kebanyakan walaupun ngobrol dipinggir jalanpun suaranya tetap jelas banget.
sekalipun menggunakan zoom mic dari kamera pun hasilnya tetap beda dgn clip on mic yg memang khusus buat pengambilan gambar dari jauh jika dalam film.
bahkan sekalipun juga menggunakan BOOMER MIC seperti ini (yg biasa digunakan di sinetron atau film)pun http://www.kurtkoncepts.com/images/boom_mic.jpg jelas tidak akan sejernih menggunakan clip on mic noise nya ketika berada dipinggir jalan raya.
untuk hal kerapihan menyembunyikan kebohongan mungkin memang amrik jagonya. acara reality show THE APPRENTICE (donald trumph) banyak sekali settingan yang didirect oleh sutradara tapi sangat tidak terlihat pengarahan itu..kita malah menyangka semua itu real semuanya. meskipun memang ada benarnya juga yaitu sebuah kompetisi memperebutkan posisi anak buah donald trumph.
yang gue salut sebuah reality show yang mungkin juga terlihat bener2 real di INDONESIA, adalah acara TOLONG yg dulu ditayangkan di SCTV
disitu terlihat jelas orang2 yg dikerjain suaranya tidak jelas..hanya sayup2..bahkan krn tidak jelas karena noise suara kendaraan berisik banget. makanya ditambahin teks yg menjelaskan isi dialog mereka.
ini baru benar2,..sebab yang make mic adalah orang dari kru aja yg diminta mengetes si target,.. bukannya targetnya. makanya targetnya tidak jelas terdengar suaranya sebab hanya mengandalkan dari mic yang nanya. sama seperti di acara KENA DEH,...si panji yang nanya kan suaranya lebih jelas dan besar, sementara suara yg ditanya kecil sekali.
coba kita bayangkan reality show buatan raja reality show helmy yahya ternyata lebih mementingkan orisinalitas kejadian, sekalipun harus berkorban dgn suara yg hancur dan gambar yg goyang daripada harus membuat gambar yg bagus serta suara yg sempurna dan jernih tetapi dibuat2 melalui pengadeganan seperti sinetron
LALU MENGAPA REALITY SHOW TERMEHEK MEHEK yang ternyata juga buatan helmy yahya sekarang dibuat dengan FAKE ?
jawabannya bisa anda baca di therad ini :
beberapa reality show Indonesia yang telah dihentikan karena memakan korban.
http://www.kaskus.us/showthread.php?p=60152871
semenjak itulah bukan hanya bung helmy yg memilih jalur aman dalam menbuat reality show tetapi mungkin semua PH.
sedikit tambahan :
gue paling gak suka dengan acara PEMBURU HANTU yang dulu ditayangin Lativi. gara2 keponakan gue berkomentar begini sewaktu menonton acara itu tepat saat adegan para pemburu hantu sedang beraksi ala akrobatik menangkap hantu yang tidak keliatan sehingga terkihat seperti dia sedang bergumul dengan udara kkosong sampe guling2 ditanah
kata keponakan gue :"itu orang kenapa sih" kog dia begitu ?, kog guling2 sendirian gak ada apa2 ?"
nah gimana kalo kalian yg ditanya begini ama anak kecil ? mau dijelasin bagaimana ? masa kita harus bilang : dia itu lagi nangkapin hantu. lalu anak itu akan nanya lagi : hantu itu apa sih ?
nah terasa kan bahwa reality show jenis begini sangat tidak mendidik bahkan merusak keyakinan seseorang ? bisa membuat anak2 jadi percaya mistis ketimbang Tuhan
dan memang setelah gue tanyakan langsung pula ke seorang produser dan sutradara acara itu yg kebetulan temennya temen gue, maka jawaban mereka adalah semuanya itu FAKE ! kalo beneran nangkap hantu ngapain harus kayak nangkap orang begitu. hantu kan makhluk halus jadi kalo mau ditangkap cukup dgn bersemedi aja ala dukun2 gk perlu pake akrobatik show ampe guling2 an segala.
untung aja acara ini udah gak ada skrg,..kalo enggak berapa banyak anak kecil di indonesia yg akan bingung melihat show2 mereka itu. disangkain org gila kali guling2an sendiri
UPDATE !
sedikit menjawab pertanyaan beberapa kaskuser yg bertanya apakah PLAYBOY KABEL itu beneran atau fake ?
nah gue bisa menjawab berdasarkan hasil perbincangan gue juga dgn salah satu krunya disini. kebetulan kru itu adalah salah seorang yg ditugaskan mencari talent2 yg bakal digunakan untuk memainkan peran buatan di acara itu.
ketika itu gue bertanya : apakah acara playboy kabel itu didramatisir, dibuat buat ? atau disetting ?
dan jawaban kru itu adalah (sedikit bijak atau mungkin agak menutupi):
sebenarnya pada awalnya memang bener2 bahkan mereka juga selalu berusaha nyari klien yg beneran. namun kebanyakan seluruh aksi2 beneran itu sering gagal. gagalnya itu misalnya gara2 si target sudah tahu dibuntuti, atau sitarget tdk mau digiring ditempat penjebakan dll.
yg pasti kendalanya sulit banget jika ingin menjebak secara real dan dgn pemain2 yg real. sering sekali mereka mengalami kegagalan. lagipula bisa jadi sitarget ngamuk dan minta jgn ditayangin
akhirnya di antisipasilah keadaan ini.
tim produksi lalu selalu menyiapkan para pemain cadangan alias aktor2 dan skenario untuk bertindak ketika skenario yg asli gagal. sebab jika syuting gk jadi hanya gara2 gagal mengikuti skenario yg real kan berabe. sudah bayar kru, akomodasi, makan,bayar host dll rugi kan ?
lalu gue bertanya lagi :
seberapa besar perbandingan antara yang beneran itu dengan yang disetting ?
jawabannya :
yang pasti banyakan yg didramatisir atau disetting lah..
soalnya mendingan ngerjain yg pasti2 aja lebih cepet apalagi kita tiap minggu harus tayang gini.
kalo ngandalin dari klien asli bisa satu bulan belum tentu dapet satu episode. tingkat kesulitan dan kegagalannya terlalu tinggi dan berisiko.buktinya banyak lho yg gagal tayang akhirnya krn berantakan gara2 targetnya asli.
lagipula gak ada bedanya kan antara yang bohong dan real itu ?
kita bikin bener2 real dgn susah payah pun belum tentu semua orang bilang itu real...sementara kalo kita bikin bohongan banyak juga kog yg bilang itu real. mendingan kita bikin aja yg bohongan kalo gitu
Monday, February 2, 2009
Kisah Secangkir Kopi Yang Mendunia
Yah, itulah kisah nyata yang dialami oleh Howard Schultz, orang yang dianggap paling berjasa dalam membesarkan kedai kopi Starbucks. "Secangkir kopi satu setengah dolar? Gila! Siapa yang mau? Ya ampun, apakah Anda kira ini akan berhasil? Orang-orang Amerika tidak akan pernah mengeluarkan satu setengah dolar untuk kopi," itulah sedikit dari sekian banyak cacian yang diterima Howard, saat menelurkan ide untuk mengubah konsep penjualan Starbucks.
Dalam buku otobiografinya yang ditulis bersama dengan Dori Jones Yang- Pour Your Heart Into It; Bagaimana Starbucks Membangun Sebuah Perusahaan Secangkir Demi Secangkir-Howard menceritakan bagaimana ia merintis "cangkir demi cangkir" dan menjadikan Starbucks sebagai kedai kopi dengan jaringan terbesar di seluruh dunia.
Awalnya, Howard Schultz adalah seorang general manager di sebuah perusahaan bernama Hammarplast. Suatu kali, ia datang ke Starbucks yang pada awalnya hanyalah toko kecil pengecer biji-biji kopi yang sudah disangrai. Toko ini dimiliki oleh duo Jerry Baldwin dan Gordon Bowker sebagai pendiri awal Starbucks. Duo tersebut memang dikenal sangat getol mempelajari tentang kopi yang berkualitas. Melihat kegairahan mereka tentang kopi, Howard pun memutuskan bergabung dengan Starbucks, yang kala itu baru berusia 10 tahun. Ia pun segera bisa dekat dengan Jerry Baldwin. Sayang, hal itu kurang berlaku dengan Gordon Bowker dan Steve, seorang investor Starbucks baru. Meski begitu, Howard tetap berusaha beradaptasi dan mencoba mengenalkan berbagai ide pembaruan untuk membesarkan Starbucks.
Suatu ketika, Howard Schultz datang dengan ide cemerlang. Ia mendesak Jerry untuk mengubah Starbucks menjadi bar espresso dengan gaya Italia. Setelah perdebatan dan pertengkaran yang panjang, keduanya menemui jalan buntu. Jerry menolak karena meskipun idenya bagus, Starbucks sedang terjerumus dalam utang sehingga tidak akan mampu membiayai perubahan.
Howard pun lantas bertekad mendirikan perusahaan sendiri. Belajar dari Starbucks, ia tidak mau berutang dan memilih berjuang mencari investor. Dan, pilihan inilah yang kemudian membuatnya harus bekerja ekstra keras. Ditolak dan direndahkan menjadi bagian keseharian yang harus dihadapinya.
Tekad itu terwujud--dan bahkan--dengan uang yang terkumpul dari usahanya, ia berhasil membeli Starbucks dari pendirinya. Namun, kerja keras itu tak berhenti dengan terbelinya Starbucks. Saat terjadi akuisisi, ia mendapati banyak karyawan yang curiga dan memandang sinis perubahan yang dibawanya. Tetapi, dengan sistem kekeluargaan, ia merangkul karyawan dan bahkan memberikan opsi saham sehingga sense of belonging karyawan makin tinggi.
Kini, dibantu dengan CEO yang diperbantukannya, Orin C Smith, Howard berhasil mengembangkan Starbucks hingga puluhan ribu cabang di seluruh dunia. Ia juga menekankan layanan dengan keramahan pada konsumen, dan di sisi lain, memperlakukan karyawan sebagai keluarga. Dengan cara itu, Howard terus berekspansi hingga terus menjadi kedai kopi terbesar.
Howard Schultz adalah gambaran kegigihan seseorang dalam mewujudkan ide. Meski diremehkan pada awalnya, Howard tetap bertahan dan akhirnya membuktikan bahwa dengan tindakan nyata, semua ide bisa menjadi nyata. Kepedulian yang ditunjukkan dengan "memanusiakan" semua karyawannya juga telah membuatnya makin disegani sehingga mampu terus memperbesar usahanya.
Kaca Spion (Catatan Andy Noya)
------------------------------------------------------------------------------------------
Sejak bekerja saya tidak pernah lagi berkunjung ke Perpustakaan Soemantri
Brodjonegoro di Jalan Rasuna Said, Jakarta . Tapi, suatu hari ada kerinduan
dan dorongan yang luar biasa untuk ke sana . Bukan untuk baca buku,
melainkan makan gado-gado di luar pagar perpustakaan. Gado-gado yang dulu
selalu membuat saya ngiler. Namun baru dua tiga suap, saya merasa gado-gado
yang masuk ke mulut jauh dari bayangan masa lalu. Bumbu kacang yang dulu
ingin saya jilat sampai piringnya mengkilap, kini rasanya amburadul. Padahal
ini gado-gado yang saya makan dulu. Kain penutup hitamnya sama. Penjualnya
juga masih sama. Tapi mengapa rasanya jauh berbeda? malamnya, soal
gado-gado itu saya ceritakan kepada istri. Bukan soal rasanya yang
mengecewakan, tetapi ada hal lain yang membuat saya gundah.
Sewaktu kuliah, hampir setiap siang, sebelum ke kampus saya selalu mampir ke
perpustakaan Soemantri Brodjonegoro. Ini tempat favorit saya. Selain karena
harus menyalin bahan-bahan pelajaran dari buku-buku wajib yang tidak mampu
saya beli, berada di antara ratusan buku membuat saya merasa begitu bahagia.
Biasanya satu sampai dua jam saya di sana . Jika masih ada waktu, saya
melahap buku-buku yang saya minati. Bau harum buku, terutama buku baru,
sungguh membuat pikiran terang dan hati riang. Sebelum meninggalkan
perpustakaan, biasanya saya singgah di gerobak gado-gado di sudut jalan, di
luar pagar. Kain penutupnya khas, warna hitam. Menurut saya, waktu itu,
inilah gado-gado paling enak seantero Jakarta . Harganya Rp 500 sepiring
sudah termasuk lontong. Makan sepiring tidak akan pernah puas. Kalau ada
uang lebih, saya pasti nambah satu piring lagi. Tahun berganti tahun. Drop
out dari kuliah, saya bekerja di Majalah TEMPO sebagai reporter buku Apa dan
Siapa Orang Indonesia . Kemudian pindah menjadi reporter di Harian Bisnis
Indonesia . Setelah itu menjadi redaktur di Majalah MATRA. Karir sayaterus
meningkat hingga menjadi pemimpin redaksi di Harian Media Indonesia dan
Metro TV.
Sampai suatu hari, kerinduan itu datang. Saya rindu makan gado-gado di sudut
jalan itu. Tetapi ketika rasa gado-gado berubah drastis, saya menjadi
gundah. Kegundahan yang aneh. Kepada istri saya utarakan kegundahan
tersebut. Saya risau saya sudah berubah dan tidak lagi menjadi diri saya
sendiri. Padahal sejak kecil saya berjanji jika suatu hari kelak saya punya
penghasilan yang cukup, punya mobil sendiri, dan punya rumah sendiri, saya
tidak ingin berubah. Saya tidak ingin menjadi sombong karenanya.
Hal itu berkaitan dengan pengalaman masa kecil saya di Surabaya . Sejak
kecil saya benci orang kaya. Ada kejadian yang sangat membekas dan menjadi
trauma masa kecil saya. Waktu itu umur saya sembilan tahun. Saya bersama
seorang teman berboncengan sepeda hendak bermain bola. Sepeda milik teman
yang saya kemudikan menyerempet sebuah mobil. Kaca spion mobil itu patah.
Begitu takutnya, bak kesetanan saya berlari pulang. Jarak 10 kilometer saya
tempuh tanpa berhenti. Hampir pingsan rasanya. Sesampai di rumah saya
langsung bersembunyi di bawah kolong tempat tidur. Upaya yang sebenarnya
sia-sia. Sebab waktu itu kami hanya tinggal di sebuah garasi
mobil, di Jalan Prapanca. Garasi mobil itu oleh pemiliknya disulap menjadi
kamar untuk disewakan kepada kami. Dengan ukuran kamar yang cuma enam kali
empat meter, tidak akan sulit menemukan saya. Apalagi tempat tidur di mana
saya bersembunyi adalah satu-satunya tempat tidur di ruangan itu. Tak lama
kemudian, saya mendengar keributan di luar. Rupanya sang pemilik mobil
datang. dengan suara keras dia marah-marah dan mengancam ibu saya. Intinya
dia meminta ganti rugi atas kerusakan mobilnya.
Pria itu, yang cuma saya kenali dari suaranya yang keras dan tidak
bersahabat, akhirnya pergi setelah ibu berjanji akan mengganti kaca spion
mobilnya. Saya ingat harga kaca spion itu Rp 2.000. Tapi uang senilai itu,
pada tahun 1970, sangat besar. Terutama bagi ibu yang mengandalkan
penghasilan dari menjahit baju. Sebagai gambaran, ongkos menjahit baju waktu
itu Rp 1.000 per potong. Satu baju memakan waktu dua minggu. Dalam sebulan,
order jahitan tidak menentu. Kadang sebulan ada tiga, tapi lebih sering cuma
satu. Dengan penghasilan dari menjahit itulah kami - ibu, dua kakak, dan
saya - harus bisa bertahan hidup sebulan.
Setiap bulan ibu harus mengangsur ganti rugi kaca spion tersebut. Setiap
akhir bulan sang pemilik mobil, atau utusannya, datang untuk mengambil uang.
Begitu berbulan-bulan. Saya lupa berapa lama ibu harus menyisihkan uang
untuk itu. Tetapi rasanya tidak ada habis-habisnya. Setiap akhir
bulan, saat orang itu datang untuk mengambil uang, saya selalu ketakutan. Di
mata saya dia begitu jahat. Bukankah dia kaya? Apalah artinya kaca spion
mobil baginya? Tidakah dia berbelas kasihan melihat kondisi ibu dan kami
yang hanya menumpang di sebuah garasi?
Saya tidak habis mengerti betapa teganya dia. Apalagi jika melihat wajah ibu
juga gelisah menjelang saat-saat pembayaran tiba. Saya benci pemilik mobil
itu. Saya benci orang-orang yang naik mobil mahal. Saya benci orang kaya.
Untuk menyalurkan kebencian itu, sering saya mengempeskan ban mobil-mobil
mewah. Bahkan anak-anak orang kaya menjadi sasaran saya. Jika musim
layangan, saya main ke kompleks perumahan orang-orang kaya. Saya menawarkan
jasa menjadi tukang gulung benang gelasan ketika mereka adu layangan. Pada
saat mereka sedang asyik, diam-diam benangnya saya putus dan gulungan benang
gelasannya saya bawa lari. Begitu berkali-kali. Setiap berhasil
melakukannya, saya puas. Ada dendam yang terbalaskan.
Sampai remaja perasaan itu masih ada. Saya muak melihat orang-orang kaya di
dalam mobil mewah. Saya merasa semua orang yang naik mobil mahal jahat.
Mereka orang-orang yang tidak punya belas kasihan. Mereka tidak punya hati
nurani.
Nah, ketika sudah bekerja dan rindu pada gado-gado yang dulu semasa kuliah
begitu lezat, saya dihadapkan pada kenyataan rasa gado-gado itu tidak enak
di lidah. Saya gundah. Jangan-jangan sayalah yang sudah berubah. Hal yang
sangat saya takuti. Kegundahan itu saya utarakan kepada istri. Dia hanya
tertawa. ''Andy Noya, kamu tidak usah merasa bersalah. Kalau gado-gado
langgananmu dulu tidak lagi nikmat, itu karena sekarang kamu sudah pernah
merasakan berbagai jenis makanan. Dulu mungkin kamu hanya bisa makan
gado-gado di pinggir jalan. Sekarang,
apalagi sebagai wartawan, kamu punya kesempatan mencoba makanan yang
enak-enak. Citarasamu sudah meningkat,'' ujarnya. Ketika dia melihat saya
tetap gundah, istri saya mencoba meyakinkan, "Kamu berhak untuk itu. Sebab
kamu sudah bekerja keras." Tidak mudah untuk untuk menghilangkan perasaan
bersalah itu. Sama sulitnya dengan meyakinkan diri saya waktu itu bahwa
tidak semua orang kaya itu jahat. Dengan karir yang terus meningkat dan gaji
yang saya terima, ada ketakutan saya akan berubah. Saya takut perasaan saya
tidak lagi sensisitif. Itulah kegundahan hati saya setelah makan gado-gado
yang berubah rasa. Saya takut bukan rasa gado-gado yang berubah, tetapi
sayalah yang berubah. Berubah menjadi sombong.
Ketakutan itu memang sangat kuat. Saya tidak ingin menjadi tidak sensitif.
Saya tidak ingin menjadi seperti pemilik mobil yang kaca spionnya saya
tabrak. Kesadaran semacam itu selalu saya tanamkan dalam hati. Walau dalam
kehidupan sehari-hari sering menghadapi ujian. Salah satunya ketika mobil
saya ditabrak sepeda motor dari belakang. Penumpang dan orang yang dibonceng
terjerembab. Pada siang terik, ketika jalanan macet, ditabrak dari belakang,
sungguh ujian yang berat untuk tidak marah. Rasanya ingin melompat dan
mendamprat pemilik motor yang menabrak saya. Namun, saya terkejut ketika
menyadari yang dibonceng adalah seorang ibu tua dengan kebaya lusuh.
Pengemudi motor adalah anaknya. Mereka berdua pucat pasi. Selain karena
terjatuh, tentu karena melihat mobil saya penyok. Hanya dalam sekian detik
bayangan masa kecil saya melintas. Wajah pucat itu serupa dengan wajah saya
ketika menabrak kaca spion.
Wajah yang merefleksikan ketakutan akan akibat yang harus mereka tanggung.
Sang ibu, yang ecet-lecet di lutut dan sikunya, berkali-kali meminta maaf
atas keteledoran anaknya. Dengan mengabaikan lukanya, dia berusaha
meluluhkan hati saya. Setidaknya agar saya tidak menuntut ganti rugi.
Sementara sang anak terpaku membisu. Pucat pasi. Hati yang panas segera
luluh. Saya tidak ingin mengulang apa yang pernah terjadi pada saya. Saya
tidak boleh membiarkan benih kebencian lahir siang itu. Apalah artinya mobil
yang penyok berbanding beban yang harus mereka pikul.
Maka saya bersyukur. Bersyukur pernah berada di posisi mereka. Dengan begitu
saya bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Setidaknya siang itu saya tidak
ingin lahir sebuah benih kebencian. Kebencian seperti yang pernah saya
rasakan dulu. Kebencian yang lahir dari pengalaman hidup
yang pahit.
Refleksi:
Mengapa harus sombong dengan kekayaan yang kita miliki, karena kekayaan
tiada berguna sama sekali, lebih baik menghidupkan lagi rasa toleransi yang
ada pada diri untuk kehidupan masyarakat yang lebih baik.

